Minggu, 31 Juli 2016

My Wedding, My Another Dream!




And here we are!! Tantangan menulis dari cipput dan ruben.

Menikah? Yang pertama kali terlintas dipikiranku adalah bahagia. Entah bahagia seperti apa, tapi memang itu yang terus berputar di seisi kepala. Dua keluarga menjadi satu, dua kepala memiliki visi dan misi yang sama, dua kehidupan berbaur menjadi satu hingga membuat dunia kecil untuk satu keluarga, saling menggenggam dan selalu bersama hingga ajal memisahkan.

Pernikahan? Dulu yang terbayang adalah foto prewedd, pesta adat, souvenir dll. Sampai lupa, bagaimana menyiapkan mental diri sendiri untuk mengemban tugas sebagai seorang istri dan calon ibu yang baik. Menikah itu penting, tapi pasca jauh lebih penting.

Padahal, pernikahan itu seharusnya sakral, khidmat dan hangat. Aku bukan tipe yang suka dengan perayaan heboh dan mentereng dimana-mana. Aku juga bukan tipe yang tergila-gila dengan hal yang wah dan serba berlebihan. Seandainya, jika menikah tak memiliki standar glamour dan mengundang banyak sana sini yang sekarang menjadi penilaian baku oleh sebagian orang. Aku hanya ingin menginjakkan kakiku di masjid, bersama calon suami dan dua keluarga inti lalu mengucapkan kalimat sakral disana. Setelah itu? Mari mengadakan pengajian sebagai ungkapan rasa syukur atas terlaksananya rencana baik dan seraya berdoa bersama untuk kebaikan pernikahan kami dan keluarga besar kami. Tapi kembali lagi, itu jika menikah bukan lagi dibuat sebagai ukuran tingkat kemampuan seseorang sehingga nikah biasa saja menjadi cibiran sana sini. Jika diberikan rezeki pun, tetap dalam kadar yang pantas dan tidak berlebihan. Acara hanya berlangsung hingga jam 8 malam, karena aku tidak ingin malam pertamaku diisi dengan keluhan lelah karena rentetan acara yang tidak ada habisnya.

Jasa WO? Aku merasa belum memerlukan mereka, karena aku memiliki sahabat yang siap direpotkan dengan perintilan pernikahan dan kemauan mendetailku yang bawel. Ada keluarga yang juga siap membantu untuk kelancaran acara ini. Intinya, mengingat menikah kini sudah menjadi acara dua keluarga, maka kuberikan mereka kesempatan untuk membantu meski tak boleh mengubah banyak apa yang sudah menjadi rencanaku dan calon suamiku. Semoga rencana ini lekas terwujud dengan baik, tanpa menyinggung berbagai pihak. Ada AMIIN??

Salam-
Ceces!

Senin, 11 Juli 2016

" Kok kamu sekarang jadi baper sih ?"

" Yaiya atuh, saya kan kesitu pake hati pak. Perasaan lah yang dibawa. Kalo pake mahar, ya seperangkat alat sholat yang dibawa "

Senin, 20 Juni 2016

All I ( can ) Ask



If this is my last night with you.
Hold me like I'm more than just a friend.
Give me a memory I can use.
Take me by the hand while we do what lovers do.
It matters how this ends.
Cause what if I never love again?

kamu, 
serupa bayang yang menghalangi pagi.
membuatku terus terdiam dibawah warna redup mentari.

kamu,
seperti jejeran bintang di bimasakti.
membuatku terus menengadahkan kepala supaya kau tak terlewati.

kamu,
bagaikan diam yang penuh dengan tanda tanya
membuatku resah namun ingin terus bersama


Ps :
Entah..
lagi suka banget sama lagu ini.

Sabtu, 16 April 2016

Hai, hai, hai.
Salam ceria ini ditulis ditengah tumpukkan tugas kuliah yang sama sekali enggak sexy buat disentuh. Tetiba kepengen nulis, tapi bingung apa yang mau ditulisin, karena ngeliat postingan terakhir yang udah lama banget dan muncullah rasa rindu ingin menulis. Biasanya sejarang apapun gue nulis, pasti setiap hari ulang tahun gue akan sempetin buat nulis, entah sekedar mengucap syukur ataupun berkata dua patah kata mengenai doa dan harapan. Tapi 25 ini... ah its complicated, very complicated. Bener-bener merasa dicoba di tahun ini, setelah kehilangan mimpi dan harus menahan nafsu amarah terhadap apa-apa yang seharusnya sudah ada di genggaman. Mimpi yang tinggal selangkah lagi bisa gue dapetin, tiba-tiba hilang gitu aja kaya asap. Lalu gue gimana? Sedih? iya lah. Marah? banget. Kecewa? enggak.. aku sama sekali enggak kecewa dengan keputusan yang sudah gue ambil dan takdir yang udah Allah kasih. Ini yang namanya gak jodoh yaaa, sekalipun semuanya hampir menjadi kenyataan dan selangkah lagi tergapai tetap saja enggak akan jadi milik kita. Sekuat apapun kita memaksa, mengusahakan, kalau memang tidak jodoh, kita bisa apa...

Kamis, 05 November 2015

Bolang Part 1

Sudah berapa lama ya tidak menulis lagi disini? satu, dua, tiga bulan?? ah entah, sudah lama sekali pastinya. Ini sebenernya late post banget sih, trip ke Sukabumi ini udah hampir berbulan yang lalu tapi baru sempet post sekarang. Ada yang berbeda dari perjalanan kali ini, yang biasanya pergi bareng temen atau keluarga, kali ini aku pergi dengan pria kesayangan.

Perjalanan ini bermula dari iseng-iseng nyeletuk ke mas kalo aku pengen trip ke danau Situ Gunung, Sukabumi. Sama sekali ga berharap banyak, itu cuma ajakan iseng karena takut kang mas ga suka travelling ke tempat yang bener-bener buta gatau daerahnya. Eh tapi ternyata dia antusias dong, jauh lebih semangat malah, dari mulai cari tau kesana gimana, kaeadannya gimana sampe udah janjian sama penginapan segala. Aku seneeeeengggg banget ihiiiiiw, kang mas aku baaiikkkk :* .

Wokay, semua perlengkapan udah siaappp, kita berangkat jam 7 pagi tapi bus baru jalan sekitar jal 10 pagi. Kesel bangeeettt, mana bus nya ga ada yg AC pula, aku BT, si mas apalagi. Tapi yaudahlah, bayanginnya liburannya aja, disabar-sabarin, dibikin happy ditemenin lagu-lagu kenangan yang dinyanyiin pengamen bus yang naek turun.

And......... Finally.... Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam......... *peluk mas sayang*
Danau Situ Gunung, Sukabumi
Ternyata berangkat jam setengah 6 pun masih kesiangan, karena kami tetep ga dapet sunrise. Tapi yaudahlah, dinikmatin aja, walau ternyata gak sebagus apa yang dihebohkan media hehehe.

Mari lupakan sejenak dengan segala penat dan keriuhan kota Cikarang, Jakarta dan sekitarnya. Ini saatnya kami bersenang-senang menikmati suasana tenang dan hawa sejuk di Sukabumi. Its soo refreshing...

Yuuu Maaarrreeeeee
Kita rela banget bangun abis subuh, gak tidur lagi, nahan hawa dingin Sukabumi cuma demi mau lihat sunrise di danau ini yang katanya bagus. Setapak demi setapak kita laluin, semangat banget lari lari kecil sambil keketawaan kaya anak kecil. Perjalanan mendaki kurang lebih 1.5 jam cukup melelahkan, tapi rasa senengnya jauh lebih besar daripada capeknya. Sepanjang perjalanan kita ga berentinya ngobrol, bener2 nimkatin banget jalan kaki berduaan, secara di Jakarta mana bisa kaya gini ya kan? yang ada diklaksonin motor sama angkot --.--''.

Akhirnya kita bisa selfie juga disini. Hawanya bener-bener dingin, seger, fresh sampe keluar asap dari mulut. Kita pun kaya orang norak yang kegirangan ngomong sampe menghembuskan nafas berulang-ulang. Hahahaha ga papalah ya by kita norak sekali-kali hahaha

Dan ah sudahlah... aku bahagia sekaliiii...
Danau Situ Gunung, Sukabumi
Setelah puas bermain-main dan menikmati pemandangan danau, kita langsung lanjut ke curug sawer. Dari sini perjalanan mendaki dimulaaaiii. Sepanjang perjalanan, satu yang membekas dihati. Kang mas ga pernah lepas tangan aku, dia genggam erat dan matanya ga pernah lepas pantau pergerakan aku. Pokoknya bener-bener berasa dijaga banget deh. Kang mas fisiknya termasuk kuat, karena dia rajin futsal jadi sering olahraga. Perjalanan menanjak cuma 1.5 jam buat dia mah gampil, lah buat cecesss?? Hahahahha gak keitung berapa kali aku minta istirahat dulu. Bahkan disaat aku ngotot mau lanjut jalan karena ga sabar mau cepet sampe curugnya, si mas justru ngotot buat istirahat dulu buat istirahatin kaki kaki.

Massss, istirahat dulu yaaa :p
Curug Sawer, Sukabumi

Say, cheseeeee


Muka jeleknyaaa mana cecesssss >.<
Daaannnn.... berakhirlah liburan singkat kita ini. Terimakasih Ya Allah, dipercayain bisa bareng sama pria yang punya hobby sama, jalan-jalan ke tempat baru. Makasih juga kang mas sayang, kamu luaarr biaassaaaa :*.

See you.

Ceces!






Kamis, 23 Juli 2015

K. A. M. U



Teruntuk kamu yang kusayangi,

Boleh aku bercerita sedikit tentang apa yg kurasa padamu dulu? Semoga apa yg kuceritakan tidak membuatmu kesal.

Sempat terlintas ragu untuk mengenalmu lebih jauh. Sebab kegagalan demi kegagalan selalu terngiang di kepala ketika hati ingin mencoba denganmu. Takut dikhianati, takut dibohongi, takut kamu jenuh dengan apapun tentangku yang menurutku tak ada daya tariknya untuk kamu selami. Namun ditengah kebimbangan, entah kenapa kita justru semakin didekatkan, entah dengan pertengkaran, beda pendapat, rindu bahkan dengan sikap egois yang terkadang masih saja muncul yang tanpa sadar justru melukai hati kita.

                                                ----------------------------------------

Namun pada akhirnya kuyakini hatiku untuk melangkah bersamamu, tidak berada dibelakangmu karena aku tak ingin kamu merasa sendiri dan tidak pula didepanmu karena aku tidak ditakdirkan sebagai seorang pemimpin. Tetapi sejajar bersamamu, melangkah bersama, berhenti bersama, membuat keputusan bersama dan tak lupa saling menggenggam erat untuk saling menguatkan.

Sebulan pertama adalah bulan terberat, banyak sekali hal yang membuatku ragu untuk terus melanjutkan bersamamu, kita sering sekali bertengkar. Setiap pertemuan yang kita atur, pasti selalu membuahkan pertengkaran baru.  Sempat merasa kalau kita tak akan mungkin, karena kita selalu saja tidak sepemikiran. Aku A, kamu kekeuh dengan B. Aku mau C, kamu gak mau berpaling dari D. Iya, sebulan pertama kita, kita seperti ini, tiada hari tanpa bertengkar. Aku cenderung takut mengutarakan apa yg kurasa, aku takut kamu marah, aku takut kamu kecewa hingga akhirnya hanya kupendam sendiri, dan aku bawa segala keluh dalam tiap sujudku, karena aku yakin tak ada yang tak terjangkau dengan doa. Lucu memang, kita yang selalu bertengkar tapi aku tak pernah absen membicarakan tentangmu dalam setiap doaku. Aku percaya tangan Tuhan, aku percaya Kuasa-Nya, jika kamu yang terbaik maka kita akan didekatkan.

Kamu pria biasa, yang sama sekali tak bisa merayu dengan gombalan. Kamu pria apa adanya, yang sama sekali tak bisa romantis. Kamu pria yang amat sangat mencintai futsal, yang selalu membuatku tersenyum tiap kali melihatmu menceritakan keahlianmu di lapangan hijau. Saat itu kamu berubah seperti anak kecil, yang senang sekali dibelikan mainan baru. Aku suka.

Teruntuk kamu, pria yang diam-diam kukagumi tawanya..

Aku suka melihatmu tersenyum. Aku jatuh cinta dengan tawamu yang renyah, yang tak pernah bosan mengucapkan sayang padaku meski aku kadang pura-pura tidak dengar. Bukan karena aku tidak mau mendengar kata-kata itu, tapi karena aku sibuk menutupi debar hati yang masih saja malu untuk kutunjukkan padamu.

Menginjak dua bulan, kamu bukan lagi pria yang sama. Kamu berubah lebih baik tanpa harus kuminta berkali-kali, kamu mulai memahami mana yang harus dan tidak, kamu mulai mengerti apa yang membuat hubungan ini baik-baik saja. Dulu aku tak percaya kalau kita bisa jatuh cinta dengan orang yang sama, tapi denganmu semuanya jadi mungkin.

Kamu tetap pria yang manja, kamu tetap pria yang selalu ingin dekat denganku, kamu tetap pria yang apa adanya, bukan pria yang segala perilakunya dibuat-buat hanya untuk menyenangkanku. Kamu, lebih dari itu. Kamu lebih hebat dari segala masa lalu yang dulu pernah hadir. Aku yakin, kamu bisa lebih dari itu.
Semoga, aku pun menjadi lebih baik di mata kamu, karena aku ingin merasa pantas disandingkan dengan kamu.

Teruntuk kamu, yang mengecup keningku dengan lembut,

Mari kita berjuang bersama. Bukankah berjuang bersama lebih indah daripada hanya menunggu diperjuangkan?
Mari kita saling menguatkan. Bukankah menguatkan satu sama lain lebih baik daripada hanya ingin dikuatkan?
Mari kita saling menjaga. Menjaga hati, menjaga cinta, menjaga apa-apa yang selama ini saling kita perjuangkan.
Mari saling memantaskan diri. Agar tak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi diantara kita.

Sekali lagi,
Teruntuk kamu, yang genggaman tangannya selalu meyakinkanku,

Terima kasih telah bersabar menghadapi segala sikapku. Terima kasih telah bersabar menjadi tempat keluh kesahku. Terima kasih telah menjadi alasanku tersenyum setiap kali aku mendengar lagu cinta. Terima kasih telah bersabar menungguku ‘pulang’, kepelukanmu dekap terhangat. Terima kasih untuk setiap cinta dan sayang yang tak ada habisnya kamu berikan kepadaku. Terima kasih untuk setiap pujian yang selalu berhasil membuatku tersipu malu.

Aku dikuatkan karena masa laluku. Kamu dihebatkan karena masa lalumu.
Tapi percayalah,
Semenjak ada kamu, yang lalu menjadi tak berarti lagi..

With love,

devi

Selasa, 02 Juni 2015

GREEN CANYON, ADORABLE TRIP!!

Just share all photos about my trip at Green Canyon, Pangandaran beach..









Amazing, Beautifull and Refresh!!
I like this place, i like the feel when the green water met my skin. Fresh, fun and wet of course.
I like everything about this place.

Terimakasih ya Allah, untuk rezeki dan kesempatannya..