Minggu, 12 Maret 2017

Cerita 26

09 Maret 1991, 26 tahun yang lalu..

Terimakasih ya Allah, atas segala yang terbaik dan tepat waktu yang selalu datang dan pergi. Terimakasih untuk orang-orang baik yang selalu mengiringi dan menemani setiap langkah. Setelah tahun lalu melewati detik detik 25 tahun dengan perasaan kecewa, sedih dan kelabu. Lalu, tahun ini terulang kembali, awalnya mengecewakan tapi aku sadar, aku tak serapuh tahun lalu. Aku jadi ingat doaku, aku tidak pernah meminta untuk diringankan atas segala beban dan cobaan yang datang, aku selalu meminta untuk dikuatkan, diberi ketegaran agar aku menjadi sosok yang tak lagi mudah pecah, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Terimakasih teman-teman corcomm, surpisenya bener-bener heboh dan make me feel so ‘waaaaaaawwwww’ >.<. Sekali lagi, terimakasih banyak. Bisa bergabung ke keluarga yang duper duper besar ini, dengan suasana kantor yang super cozy, sekali lagi, terimakasih ya Allah. Telah dikelilingi orang-orang baik. 

Makasii juga untuk GBC, you are awesome guys. Muuuaaaaccchhh :*

Cerita sedikit tentang detik detik menuju tanggal 9 maret.
Aku masih berada di ruang tunggu operasi, berkali kali kutengok jam ditanganku, membuka HP lalu menutupnya kembali dengan mata yang sudah kupaksakan untuk terus terjaga. Beberapa hari ini, jam tidurku sedang tidak beraturan. Aku tidak panik, hanya khawatir, aku tidak pernah berada di situasi seperti ini, yang kulakukan setiap waktu hanya berdoa dan sesekali bercanda dengan sekelilingku. Aku tak pernah suka rumah sakit, aku kesal dengan baunya, aku tak suka melihat wajah cemas dan panik bercampur jadi satu. Akhirnya operasi selesai, namun aku tetap belum bisa langsung menemui pasien karena dia belum sadarkan diri. Lagi lagi, aku harus menunggu. Sekitar 45 menit, akhirnya pasien dibawa keluar dan segera berpindah kamar. Aku berlari menyamakan langkahku dengan yang lain, walau ujung-ujungnya tetep aja ketinggalan, maklum rempong bawaan banyak bhahahak :D
Ketika sampai di ruang rawat inap, aku masih tidak berani untuk masuk. Aku takut. Namun seorang ibu dari kamar sebelah yang kebetulan anaknya pernah melakukan operasi yang sama, meyakinkanku kalau semuanya berjalan dengan lancar. Aku masuk. Melihat orang yang setiap kali bertemu selalu tertawa bersamaku, bercanda dan bersenda gurau, kali ini dia terbaring lemah menahan sakit yang teramat sangat di tangannya. Senyum yang sengaja kupasang daritadi langsung lenyap. Dia sakit ya Allah, dia benar-benar kesakitan...
Tak lama menjenguk, setelah meletakkan beberapa hal yang mungkin ia perlukan, aku pamit pulang. Sepanjang jalan, aku merebahkan tubuh dan kakiku karena keadaan kereta sudah kosong, aku naik kereta terakhir, pukul 22.54. Aku pejamkan mataku, aku super lelah. Pada detik menjelang 00.00, masih dengan mata terpejam aku sempatkan berdoa, kereta masih melaju dengan kencang.

“Selamat ulang tahun devi. Semoga, kamu selalu dikuatkan dan diberikan keberkahan disetiap langkahmu. Ya Allah, permintaan kali ini, maunya sembuhnya abang aja boleh ya Ya Allah, sembuh total 100% bisa kan yah Ya Allah. Aamiin... “
Dan doa ini, terus berlanjut disetiap tiupan lilin sepanjang hari itu dan sampai saat ini..

Selamat datang 26. Aku siap!! Lekas sembuh abang, sampai ketemu lagi di jadwal check up selanjutnya :)

Minggu, 18 Desember 2016

Kamu tau, bukan mereka yang kerap membuatmu tak bernyawa, tapi ialah dirimu sendiri yang memaksakan pelangi tiba dengan banyak pagi di kepala, meski kamu tau, bukan dirimu yang dijadikan pulang sejak awal.

Sabtu, 10 September 2016

Bila itu Aku



Ada masa dimana menunggu adalah hal yang tidak mengasyikkan lagi. Terlalu banyak pertanyaan dan rasa sesal yang kadang muncul dalam benak, tapi tiba-tiba hilang tak terfikirkan lagi.

Kepadamu, Tuan

Yang namanya selalu hadir dikepala,

Mungkin, benar adanya tentang kalimat “Hadirlah dalam setiap momen dihidupnya, katakan kamu menunggunya lalu menghilanglah” adalah satu-satunya cara untuk membunuh perasaan seseorang. Mungkin mati lebih baik untukku ketimbang hidup dengan hati yang dikuliti dengan jutaan belati, senyummu.

Duduklah sebentar disampingku, akan kuutarakan apa yang menjadi harapku padamu, Tuan. Percayalah, bukan hanya sekali aku menitipkan salamku pada samudera, membiarkan rindu dipeluk ombak menuju senja. Saat kutahu, bahwa mencintaimu tak pernah semudah melukis pasir, yang kelak akan menghilang hanya dalam satu sapuan ombak bergulir.

Mungkin, aku hanyalah satu dari banyak pilihan yang tak kau utamakan. Ketika lenganku tak mampu merengkuhmu, ketika candaku tak lagi mampu menuai senyummu dan ketika kamu lebih memilih berdiam bersama senja yang jauh lebih cantik menarik hatimu, ketimbang aku yang hanya bisa merindumu dibalik jendela menanti titik temu.

Aku bukanlah perempuan yang pandai membaca sorot matamu, ketika langkahmu lebih mahir menciptakan semu, sedang senyummu memberi isyarat untuk menunggu. Bukan pula rasaku yang kian bersemi, sebab kau adalah harapan yang tak seharusnya berdiam menggerogoti ulu hati.

Untukku, cinta ialah anugerah Sang Maha Kuasa.
Dan mencintaimu, ialah keikhlasan untuk beribadah.

Sekali lagi Tuan,
Bersamamu, ialah harapan yang kujaga setinggi asa. Maafkan, jika aku begitu gigih menenun sabar untuk mempertahankan rasa. Semoga kau disana mengingikan hal yang sama, bukan malah jengah dengan kebodohanku dalam menjaga rasa.

Jika kita adalah tujuan, semoga aku menjadi satu-satunya.

*Terinspirasi kisah temen*


Ada yang sedang terlampau bahagia, hingga merasa memiliki bahagia yang lebih untuk diceritakan ketika ada yang bercerita tentang kebahagiannya.

Ada yang sedang terlampau jatuh cinta, hingga kisah cinta apapun terlihat biasa saja dan menyodorkan kisah cintanya yang menurutnya luar biasa.

Ada yang sedang diatas awan, hingga apapun dimatanya menjadi biasa saja lalu mengalihkan objek cerita menjadi terfokus pada dirinya.

Ada yang sedang sangat amat mengerti dengan apa yang terbaik dan tidak baik untuk hidup seseorang...

*memantau linimasa*

Minggu, 31 Juli 2016

My Wedding, My Another Dream!




And here we are!! Tantangan menulis dari cipput dan ruben.

Menikah? Yang pertama kali terlintas dipikiranku adalah bahagia. Entah bahagia seperti apa, tapi memang itu yang terus berputar di seisi kepala. Dua keluarga menjadi satu, dua kepala memiliki visi dan misi yang sama, dua kehidupan berbaur menjadi satu hingga membuat dunia kecil untuk satu keluarga, saling menggenggam dan selalu bersama hingga ajal memisahkan.

Pernikahan? Dulu yang terbayang adalah foto prewedd, pesta adat, souvenir dll. Sampai lupa, bagaimana menyiapkan mental diri sendiri untuk mengemban tugas sebagai seorang istri dan calon ibu yang baik. Menikah itu penting, tapi pasca jauh lebih penting.

Padahal, pernikahan itu seharusnya sakral, khidmat dan hangat. Aku bukan tipe yang suka dengan perayaan heboh dan mentereng dimana-mana. Aku juga bukan tipe yang tergila-gila dengan hal yang wah dan serba berlebihan. Seandainya, jika menikah tak memiliki standar glamour dan mengundang banyak sana sini yang sekarang menjadi penilaian baku oleh sebagian orang. Aku hanya ingin menginjakkan kakiku di masjid, bersama calon suami dan dua keluarga inti lalu mengucapkan kalimat sakral disana. Setelah itu? Mari mengadakan pengajian sebagai ungkapan rasa syukur atas terlaksananya rencana baik dan seraya berdoa bersama untuk kebaikan pernikahan kami dan keluarga besar kami. Tapi kembali lagi, itu jika menikah bukan lagi dibuat sebagai ukuran tingkat kemampuan seseorang sehingga nikah biasa saja menjadi cibiran sana sini. Jika diberikan rezeki pun, tetap dalam kadar yang pantas dan tidak berlebihan. Acara hanya berlangsung hingga jam 8 malam, karena aku tidak ingin malam pertamaku diisi dengan keluhan lelah karena rentetan acara yang tidak ada habisnya.

Jasa WO? Aku merasa belum memerlukan mereka, karena aku memiliki sahabat yang siap direpotkan dengan perintilan pernikahan dan kemauan mendetailku yang bawel. Ada keluarga yang juga siap membantu untuk kelancaran acara ini. Intinya, mengingat menikah kini sudah menjadi acara dua keluarga, maka kuberikan mereka kesempatan untuk membantu meski tak boleh mengubah banyak apa yang sudah menjadi rencanaku dan calon suamiku. Semoga rencana ini lekas terwujud dengan baik, tanpa menyinggung berbagai pihak. Ada AMIIN??

Salam-
Ceces!

Senin, 11 Juli 2016

" Kok kamu sekarang jadi baper sih ?"

" Yaiya atuh, saya kan kesitu pake hati pak. Perasaan lah yang dibawa. Kalo pake mahar, ya seperangkat alat sholat yang dibawa "

Senin, 20 Juni 2016

All I ( can ) Ask



If this is my last night with you.
Hold me like I'm more than just a friend.
Give me a memory I can use.
Take me by the hand while we do what lovers do.
It matters how this ends.
Cause what if I never love again?

kamu, 
serupa bayang yang menghalangi pagi.
membuatku terus terdiam dibawah warna redup mentari.

kamu,
seperti jejeran bintang di bimasakti.
membuatku terus menengadahkan kepala supaya kau tak terlewati.

kamu,
bagaikan diam yang penuh dengan tanda tanya
membuatku resah namun ingin terus bersama


Ps :
Entah..
lagi suka banget sama lagu ini.